UNTUK IBU

wanita solehah1

Aku tak kan pernah rasakan tulus cinta bila tak ada kasih sayang suci ibu, Ibu tersenyum dalam duka pahit dunia selalu nyatakan cinta demi sukaku selalu berikan cinta untuk aku, Kupanjatkan padaMu Tuhan berikan selalu kasihMu limpahkan kasih dan sayangMu untuk ibu,  kumohonkan padaMu Tuhanberikan selalu cintaMu karena hanya Engkau yang dapat kabulkan do’a.  Aku seringkali bertanya Tanya mungkinkah ada cinta suci tulus seperti cintanya selalu nyatakan cinta dalam dukanya selalu berikan cinta dalam deritanya.

Ibu adalah orang tua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini. Contohnya adalah pada orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (istri ayah biologis anak).

Selain itu, dalam bahasa Indonesia panggilan “ibu” juga dapat ditujukan kepada perempuan asing yang relatif lebih tua daripada si pemanggil atau panggilan hormat kepada seorang wanita, tanpa memedulikan perbedaan usia.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulallah (saw) siapakah orang yang paling berhak dihormati: Nabi (saw) menjawab: Ibumu! Lelaki itu bertanya lagi, kemudian siapa lagi, Nabi (saw) menjawab: Ibumu! Lelaki itu terus bertanya, kemudian siapa lagi? Nabi (saw) menjawab ibumu! Kemudian siapa lagi? Nabi s.a.w. menjawab pula: Kemudian Bapamu! (Hadis riwayat at-Tirmizi)

Demikian tinggi dan mulianya taraf seorang ibu dari pandangan Islam.

Tidak dapat dinafikan betapa besar tanggung jawab, peranan seorang ibu terhadap keluarga terutama anak-anaknya. Betapa susah payah yang dialami seorang ibu ketika mengandung, dari sebulan kesebulan hingga anak itu dilahirkan. Betapa sakit yang dirasai ibu ketika melahirkan, setelah lahir dengan penuh kasih sayang ia menjaga anak-anaknya, menyusuinya, merawat buah hatinya itu, sehingga ketika tidur si ibu selalu terbangun dengan tangisan bayinya. Banyak masa dihabiskan untuk merawat, menjaga, mendidik, dari kecil hingga anak itu dewasa.

Tak dapat sungguh kita membalas penat lelah dan kasih sayang seorang ibu terhadap anak-anakntya. Siang malam tidur si ibu terganggu oleh tangisan si comel. Betapa besar pengorbanan pengorbanan seorang ibu, tak dapat kita membalasnya.

Seorang ibu sanggup mengorbankan apa sahaja demi anak-anaknya yang tercinta, dengan tidak mengharapkan apa-apa balasan. Ibu sanggup berpenat lelah, ibu sanggup tidak lelap tidurnya, karena memberi susu, atau menjaga supaya anaknya tidak jatuh sakit, tidak digigit nyamuk, ibu sentiasa mendo’akan anak-anaknya sehat walfiat dan menjadi anak yang berguna dikemudian hari.

Betapa besar dosa seorang anak yang durhaka tidak mahu mendengar nasihat ibunya, betapa besar dosa seorang anak yang tidak mahu membalas jasa ibunya, terutama ketika ibunya sedang sakit,  atau dikala telah lanjut usianya. Sehingga kita selalu mendengar kata-kata ingatan dari orang-orang tua kita: ” seorang ibu sanggup menjaga, merawat dan membesarkan sepuluh anak-anaknya, tetapi sepuluh orang anak belum tentu sanggup menjaga seorang ibunya.”

Oleh karena itu sudah sepatutnya kita membalas jasa baik ibu-ibu kita, sekurang-kurangnya hormati lah ibu-ibu kita, muliakanlah ibu-ibu kita, dan jagalah segala kebjikannya terutama ketika mereka memerlukan penjagaan kita dihari tua mereka.[]MZ_matasiswa.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s