Indahnya Silatuhrahmi

CIMG7617 - Copy
Mempererat tali silaturahmi memiliki banyak manfaat bagi umat Islam, diantaranya:
    Mendapatkan ridho dari Allah SWT.
    Membuat orang yang kita dikunjungi berbahagia.
    Disenangi oleh manusia.
    Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama.
    Meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan.
    Mempererat tali persaudaraan.
    Mempererat tali persahabatan.
 
Seperti halnya Mahasiswa STAI PTDI yang dating ke sebuah rumah Dosen kampus tersebut, walaupun Dosen tersebut sudah tidak mengajar, namun silatuhrahmi akan tetap berjalan bagaimana pun keadaan, sebut saja Bapak Edi Ramaja, selaku dose tersebut, bukan hanya itu kekompakan serta keakraban menyelimuti pertemuan kedua belah pihak.
    Menambah pahala setelah kematiannya. Dalam hal ini kebaikan manusia yang senang bersilaturahmi, akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.
Agar kita dapat menjalin silaturahmi dengan baik, marilah kita pahami terlebih dahulu apa itu silaturahmi. Silaturahmi berasal dari dua kata yang digabungkan, yakni shilah dan rahm. Shilah berarti hubungan atau menghubungkan, sedangkan rahm mempunyai dua makna, yang pertama berarti kelembutan atau kasih sayang, yang kedua bermakna peranakan (rahim) atau kekerabatan yang masih ada pertalian darah (persaudaraan). Dengan demikian, silaturahmi berarti menjalin hubungan kasih sayang; silaturahmi juga bisa berarti menjalin hubungan kekerabatan.
Berangkat dari makna silaturahmi sebagaimana di atas, menjalin silaturahmi berarti menjalin hubungan kasih sayang dengan kerabat maupun dengan orang lain. Dengan demikian, seseorang belum dikatakan bisa menjalin silaturahmi bila dengan orang lain baik, tetapi dengan saudara sendiri malah tidak rukun. Sebaliknya, baik sekali hubungannya dengan saudara, namun tidak baik dengan orang lain, perilaku yang demikian pun belum memenuhi kriteria silaturahmi.
Di samping itu, ada satu hal lagi yang penting untuk kita ketahui, yakni yang dinamakan menjalin silaturahmi adalah menyambung kembali tali silaturahmi yang putus. Mengenai hal ini, marilah kita perhatikan sebuah hadits Nabi Saw. berikut, yakni dari Ibnu Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
“Orang yang menyambung tali silaturahmi bukanlah orang yang bersilaturahmi kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Akan tetapi, orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang jika tali silaturahminya diputus, ia menyambungnya.” (HR. Bukhari)
Berdasarkan hadits tersebut, kita semakin memahami bahwa yang dinamakan menjalin silaturahmi adalah menyambung kembali tali silaturahmi yang telah putus. Ini sesungguhnya bukan pekerjaan yang mudah. Kecenderungan dari kita adalah hanya bersilaturahmi kepada orang-orang yang sudah terjalin hubungan dengan kita saja. Hal ini tidak salah, bahkan bernilai penting dalam rangka untuk menjaga jalinan silaturahmi. Namun, menyambung kembali tali silaturahmi yang telah putus adalah bagian yang utama dalam amalan yang bernama menjalin silaturahmi ini.
Memperbaiki hubungan dengan menjalin silaturahmi ini juga merupakan perintah Allah Swt. Marilah kita renungkan firman-Nya sebagai berikut:
“…bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu…” (QS. Al-Anfâl [8]: 1)
Oleh karena itu, marilah kita mengamalkan untuk menjalin silaturahmi dengan baik. Sungguh, jangan sampai sekali-kali malah kita memutus hubungan silaturahmi. Balasan yang diberikan kepada orang yang memutuskan hubungan silaturahmi atau kekeluargaan itu berat sekali, yakni tidak akan masuk surga. Mengenai hal ini, marilah kita perhatikan sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” (HR. Muslim)
Ternyata, ancamannya sangat berat bagi orang yang memutuskan hubungan silaturahmi. Bila memang demikian, tak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak menjalin silaturahmi. Toh ketika di dunia pun kita akan mendapatkan dua anugerah penting ketika menjalin silaturahmi, yakni diberi kelapangan rezeki dan dikaruniai umur yang panjang.
Dengan demikian, bagi orang yang ingin menjadi kaya, tidak boleh ada dalam kamus hidupnya untuk membenci orang lain. Bagi orang yang ingin diberi kelimpahan rezeki oleh Allah Swt., tidak boleh ada dalam hatinya untuk mempunyai sifat dengki. Bagi orang yang ingin dipanjangkan umurnya oleh Allah Swt., maka harus menjauhkan diri dari akhlak buruk yang bernama bermusuhan.[]MZ_matasiswa.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s